Warga Korban Tanah Gerak Minta Solusi, Ditawari Transmigrasi ke Gorontalo

Salah satu rumah korban Tanah Gerak Di Tanen Rejotangan / Foto : Febri / Tulungagung TIMES
Salah satu rumah korban Tanah Gerak Di Tanen Rejotangan / Foto : Febri / Tulungagung TIMES

BOJONEGOROTIMES, MALANG – hujan dengan intensitas tinggimembuat warga desa Tanen Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung yang tanahnya labil kembali tak dapat tidur nyenyak. Kondisi tanah labil dan bergerak mengakibatkan 19 kepala keluarga di RT 2 dan 3 RW 11 dusun Purwodadi Kidul Desa Tanen menjadi was-was.

"Sebenarnya sudah ada perhatian dari pihak desa setahun lalu, tapi nilainya kecil dan tidak mungkin membuat kami bisa pindah rumah," kata Febri, salah satu warga sekitar Jumat (08/03) siang.

Sejak tahun 2017 hingga kini, kondisi tanah yang retak-retak dan amblas mengakibatkan mereka beberapa kali ketakutan dan harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pasalnya, kondisi tersebut juga mengakibatkan retak dinding tembok serta lantai rumah warga. 

"Bahkan ada beberapa rumah warga yang ada di perbukitan tersebut sudah roboh, apalagi jika hujan seperti sekarang. Kami takut," ungkapnya.

Warga pernah diundang ke kantor desa untuk mengikuti sosialisasi program semacam simpan pinjam. Namun, syarat dan ketentuan yang diberikan belum menjadikan solusi bagi warga yang terdampak. "Dulu sebelum tahun 2006 pernah ada kasus tanah longsor, tetapi dari pihak pemerintah desa bisa memberikan solusi untuk pindah rumah dan diberikan bantuan bahan bangunan dan dirujuk pindah ke lokasi yang lebih aman," ujar Febri.

Namun karena tawaran penyelesaian yang beda dengan sebelumnya, warga masih bertahan di rumah yang rawan bergerak dan rusak itu. "Jika waktu musim kemarau kita kembali ke rumahnya, setelah musim hujan sejak tahun lalu kita mengungsi ke saudara," jelasnya

Setidaknya ada tujuh rumah kategori rusak parah akibat tanah gerak, tujuh rumah itu di antaranya milik Mukri, Setat, Narto, Teman, Mikan, Sulastri dan Narsih.

Bantuan yang diterima warga ada yang sebesar Rp 1,5 juta, Rp 500 ribu dan Rp 300 ribu. Selain itu, pemerintah pernah menawarkan bantuan sistem tukar guling. "Mereka memberikan tanah baru tapi lahan rumah mereka yg terkena tanah longsor ini akan diambil pemerintah. Warga tidak setuju karena merasa dirugikan karena pindah rumah perlu biaya banyak dan tidak ada bantuan berupa bahan bangunan," lanjutnya

Karena tidak setuju, anehnya pemerintah malah meminta untuk transmigrasi ke Gorontalo. "Warga merasa diberatkan dengan pilihan itu semua sehingga tetap tidak setuju," tukasnya.

Karena bertahan, warga pernah dijanjikan bantuan setelah pemilihan bupati tahun  2018 lalu, namun hingga kini bantuan itu tak kunjung realisasi. "Hingga kini, bantuan tidak datang malah yang ada kecemasan dan ketakutan," pungkasnya.

Hingga berita ini ditulis belum ada tanggapan dari pihak terkait dengan adanya kejadian beberapa tahun sebelumnya.

Pewarta : Anang Basso
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]bojonegorotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]bojonegorotimes.com | marketing[at]bojonegorotimes.com
Top