Menu Buka Puasa, "Perang" Street Food ala Hotel-Hotel di Malang

Street food yang disajikan dalam miniatur perahu naga terinspirasi Chao Praya Night Market di Hotel Tugu Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Street food yang disajikan dalam miniatur perahu naga terinspirasi Chao Praya Night Market di Hotel Tugu Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

BOJONEGOROTIMES, MALANG – Mewarnai bulan Ramadhan 1440 H, operator-operator hotel di Kota Malang makin menggenjot promosi sektor food and beverage (F&B) dengan berbagai paket kuliner. Salah satunya, yakni "perang" street food alias jajanan kerap dicari sebagai takjil atau menu buka puasa. Hotel-hotel menawarkan berbagai konsep street food, mulai penganan asli Malang hingga cita rasa Asia.

Misalnya di Hotel Tugu Malang yang pada Ramadhan kali ini menawarkan dua konsep sekaligus. Yakni tema 101 Malay Street Foods untuk Melati Restoran dan Chao Praya Night Market untuk SaigonSan Restoran. "Para tamu dapat memilih menikmati pengalaman berbuka dengan masakan asli Malaysia atau hidangan-hidangan Thailand dan Vietnam," ujar Marketing and Communications Manager Hotel Tugu Malang, Pratiwi Sasotya.

Pratiwi menyebut, konsep street food ini dipilih karena nuansa Ramadhan lekat dengan nostalgia. Hotel Tugu Malang mengundang para tamu untuk menikmati masakan multi-etnis dari Asia Tenggara. "Hidangan-hidangan Malay ini taste-nya masih bisa diterima oleh lidah Indonesia, kan saat berbuka rata-rata orang itu ingin hidangan dengan rasa yang familiar," tuturnya.

Sedangkan untuk menguatkan kesan street food di Chao Praya, Hotel Tugu menyajikan hidangan dengan miniatur-miniatur kapal naga. Pilihan suguhan seperti Char Kway Teow Penang - kwetiauw goreng dengan udang dan kerang, Laksa Lemak Melayu - dibuat dengan santan segar dan pasta laksa buatan sendiri, dan lain-lain bisa dinikmati. "Untuk harganya, per menu mulai dari Rp 48 ribu. Paket juga ada, dimulai Rp 250 ribu per pax minimal sepuluh tamu untuk sembilan jenis hidangan," sebutnya.

Konsep berbeda ditawarkan oleh Hotel Swiss-Belinn Malang yang mengangkat tema Kampung Ramadhan. Beragam kuliner khas Malang mulai dari takjil hingga makanan penutup bisa menjadi pilihan buka puasa. Penganan ringan seperti cilok, sempol, jagung serut, weci, dan lain-lain yang biasanya ditemui di jalanan, kini hadir secara ekslusif di restoran hotel. Kue-kue kecil jajanan pasar seperti kue lumpur, lemper, talam, kelepon, sukun goreng, pisang goreng, tahu isi, lapis kukus, pukis, dan lain-lain juga ikut dihadirkan.

"Tahun ini kami menyajikan menu--menu autentik atau khas Malang dengan konsep buffet (prasmanan) all you can eat dengan harga per pax Rp 85 ribu. Cuma di sini tiba-tiba ketemu cilok, sempol, jagung serut di hotel," ujar Assisten Sales Manager Swiss-Belinn Malang Erwinda Moonica. Perempuan yang akrab disapa Winda ini mengungkapkan, setiap hari setidaknya ada 41 sajian yang dihidangkan bagi tamu.

Setiap hari, lanjut Winda, Swiss-Belinn Malang menghadirkan hidangan tematik kampung-kampung yang ada di Malang Raya. Misalnya Warung Tangkil, Warung Glintung, Warung Pasar Gadang, Kampung Arab, dan lain-lain. "Setiap hari juga menu autentik yang disajikan berbeda. Contohnya ada orem-orem Ngalam, mie tetelan tulang Pasar Gadang, tahu campur pasar besar, pecel Glintung, dan menu-menu khas lainnya. Menu yang dipilih ini yang populer di Malang sekaligus untuk mengenalkan khasanah kuliner Malang," sebutnya.

 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]bojonegorotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]bojonegorotimes.com | marketing[at]bojonegorotimes.com
Top