Momentum Ramadan, Makam Mbah Wasil Banyak Dikunjungi Ribuan Peziarah

Pengunjung dari luar daerah berziarah ke makam mbah wasil. (eko Arif s /JatimTimes)
Pengunjung dari luar daerah berziarah ke makam mbah wasil. (eko Arif s /JatimTimes)

BOJONEGOROTIMES, KEDIRI – Menjelang dan memasuki awal Bulan Suci Ramadahan hingga Idul Fitri,  wisata Religi Makam Setono Gedong yang berada di Kelurahan Setono Gedong Kecamatan Kota Kediri Jawa Timur, selalu ramai dikunjungi wisatawan atau peziarah.

Para pengunjung yang datang tidak hanya dari lokalan masyarakat Kediri saja, melainkan juga dari berbagai daerah di Indonesia bahkan Luar Negri sekali pun seperti halnya  Brunai Darusallam dan Malaysia. 

Pada umumnya  mereka yang datang dari luar daerah adalah beserta rombongan ziarah wali.

Tak heran jika makam Setono Gedong menjadi salah satu andalan wisata Religi oleh  Pemerintah Daerah setempat. 

Setono Gedong ditetapkan sebagai lokasi cagar budaya oleh BPCB Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Diceritakan, sebelum masa perkembangan Islam di Kediri Setono Gedong merupakan tempat sesembahan bagi kaum kepercayaan tertentu. 

Ini dibuktikan dengan keberadaan situs situs arca yang terdapat disekitar setono gedong.

Setelah Perkembangan Islam di Kediri daerah setono gedong menjadi tempat penyebaran agama sialam dengan ditandai dibangunya masjid Setono Gedong serta adanya makam tokoh penyebar agama islam di Kediri yaitu Syeh Wasil Syamsudin anatara tahun 920 - 929 H atau tahun 1514 - 1523 M.

Menurut keterangan Yusuf, selaku juru kunci makam Setono Gedong menuturkan , jumlah pengunjung yang datang pada saat mendekati dan awal bulan puasa Ramadhan di akumulasi 30 hari, mencapai puluhan  ribuan orang.

Apalagi jika sore hari mendekati waktu berbuka puasa jumlah orang yang datang semakin banyak. 

Tidak hanya itu, pada saat momentum lebaran dan pasca lebaran pun masih  banyak peziarah yang datang terutama mereka yang masih ada hubungan silsilah atau  kerabat dengan para tokoh.

Yusuf menuturkan, jumlah pengunjung yang datang semakin banyak terutama pada saat momentum hitungan hari ganjil di bulan puasa atau malam Lailatul Qadar. 

Hitungan jumlah pengunjung yang datang bisa mencapai 30 ribu orang. 

"Menjelang Idul Fitri, atau malam ganjil 25,27,29 pengunjung yang datang bisa mencapai 30 ribu orang mas, selain warga lokal kediri yang datang juga banyak dari luar daerah di Indonesia," ucap Yusuf.

Pengujung dari luar daerah diantaranya, Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Malang, Solo, Blitar, Tulunganggung. Bahkan mereka pun harus rela menginap, jika datang ke malaman. 

Yusuf mengisahkan, mbah wasil masuk ke Kediri pada masa Pemerintahan kerajaan Sri Aji Joyobo  pada diperkirakan abad ke 10 atau 11. 

Syech Wasil Syamsudin dikenal oleh masyarakat berasal dari Istambul Turki.

Masyarakat kemudian memberinya gelar Pangeran Mekah. 

Namun kebanyakan masyarakat lebih suka menyebutnya dengan nama panggilan mbah wasil. 

"Dipanggil mbah wasil karena beliu, sering memberikan wasil (ahli bertutur sapa, berpetuah yang baik)," Imbuhnya.

Ketika masuk di Kediri yang pada waktu itu mayoritas penduduknya beragama lain, Syech Wasil Syamsudin tidak serta merta langsung syiar menyebarkan agama islam, melainkan terlebih dahulu melakukan pendekatan ke masyarakat. 

Setelah dilakukan pendekatan lambat laun masyarakat akhirnya mau menerima ajaran islam pada masa itu.

Pada umumnya para pengunjung, setelah berziarah ke makam mbah wasil selalu merasakan ke tenangan batin dan segala kesulitan yang dihadapi selalu menemukan solusi (berdoa meminta kepada allah).  

Selain makam mbah wasil, di wisata religi Setono Gedong juga terdapat tokoh besar lainya seperti makam Wali akba, Pangeran Sumende, Sunan Bagus, Sunan Kabul Bakul , kembang sostronegoro, Mbah Fatimah dan Amangkurat.

"Wisata religi, disini ada delapan titik. Mbah wasil itu wali sepuh yang datang termasuk kurang lebih abad 10 atau 11. Pada masa itu masuk pemerintahan Sri Aji Joyobo. Bahkan diduga mereka ada hubungan emosional. Ada yang mengatakan mbah wasil guru spritual sri Aji Joyo boyo. Bahkan karena kedekatanya, membuahkan sebuah jongko atau kitab pusaran Jongko Joyoboyo," cerita pria yang memiliki nama lengkap Muhammad Yusuf Wibisono ini.

Area halaman luar Makam Mbah Wasil pernah dilakukan perbaikan, pada masa Pemerintahan  Wali Kota Kediri Maschut. 

Yusuf menjelaskan Pengambilan nama Setono Gedong memiliki arti Setono sebagai makam sedangkan Gedong sesuatu yang besar. 

Jka digabungkan menjadi kalimat makam pembesar (tokoh). 

Pada momentum bulan suci Ramadahan seperti sekarang, banyak warga yang berziarah sambil ngabuburit menunggu kumandang adzhan di Masjid Setono Gedong.

Pewarta : Eko Arif Setiono
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Kediri TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]bojonegorotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]bojonegorotimes.com | marketing[at]bojonegorotimes.com
Top