Curhatan Anak Rantau di Malang yang Harus Merayakan Ramadan Jauh dari Keluarga

Mahasiswi perantau di Kota Malang.(Foto: Instagram @feniyusnia)
Mahasiswi perantau di Kota Malang.(Foto: Instagram @feniyusnia)

BOJONEGOROTIMES, MALANG – Momen Ramadan menjadi suatu hal yang amat ditunggu kaum muslimin. Aktivitas berkumpul dengan keluarga sambil menikmati suasana berbuka atau sahur bersama menjadi kebiasaan yang paling dinantikan semua orang.

Sayangnya, aktivitas seperti itu harus rela ditinggalkan bagi mereka yang masih berada di perantauan ketika bulan penuh berkah ini datang. Kesibukan akan pendidikan atau pekerjaan sudah menjadi hal yang tak bisa ditinggalkan. Karena itu, momen kebersamaan di bulan Ramadan harus rela dilewati untuk berjuang demi suatu pencapaian.

Lalu, seperti apa sih pengalaman anak rantau yang harus merayakan ramadan di Kota Malang ini ?

1. Ngenes karena Jauh dari Keluarga

Perasaan jauh dari keluarga dirasakan oleh salah satu pria asal Kalimantan Utara, Akbar Adinugraha. Merasakan puasa di tempat rantau, dirinya merasa nelangsa (ngenes). Mulai tidak ada yang menyiapkan makan sahur hingga harus berjuang bangun sahur sendirian.

"Ngenes banget rasanya, kayak kapan hari itu sudah siap - siap beli lauk buat sahur. Eh pas bangun udah subuh. Makanan pun basi, lapar pun menerjang. Kangen disiapin semuanya dirumah," ungkap mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM itu.

2. Harus Berjuang dengan Skripsi

Merantau di bulan Ramadan dengan perjuangan, seperti yang diutarakan perempuan asal Kalimantan Tengah Hernanda Istifarin Puspita. Meski sedih, tapi ia harus berjuang untuk menuntaskan tugas akhirnya.

"Sedih sih, tapi harus segera selesaikan skripsian. Paling mengurangi rasa kangennya itu kalau pas buka nyari makanan khas daerah saya, soto banjar misalnya. Tapi tahun ini sambil jaga stand minuman, buat tambahan tabungan," ungkap mahasiswa semester akhir jurusan Sastra dan Kebudayaan Indonesia UMM itu.

3. Kangen Masakan Rumah

Masakan rumahan yang disiapkan oleh keluarga memang tak bisa tergantikan oleh makanan apa pun. Apalagi di momen Ramadan, tentunya hal ini bisa menjadi hal yang paling bikin kangen bagi anak rantau.

"Aku kangen masakan rumah, biasanya ada yang bangunin sahur. Terus pas bangun udah ada teh anget sama mie goreng. Tapi gimana ya, masih harus berjuang demi wisuda," ungkap mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya Feni Yusnia Safitri.

4. Rela Tidak Tidur sampai Subuh

Ketakutan karena sulit bangun ketika sahur ternyata juga menjadi dilema perantau. Daripada kehilangan waktu sahur, anak rantau yang satu ini memilih untuk tidak tidur hingga subuh.

"Gara-garanya sih susah banguh sahur. Biasanya antarteman satu kos saling berjuang membangunkan. Tapi lebih seringnya nggak tidur, takut telat sahurnya. Kalau di rumah pasti ada yang ngebangunin ya," kata Fatma Dea Susanti, asal Tulungagung.

5. Harus Setting Alarm kayak Spam Chat

Dilema bangun sahur memang yang paling berat dirasakan anak rantau. Seperti yang dialami Waldin Habiby, asal Palangkaraya ini. Dirinya terpaksa harus bertahan di perantauan karena terkendala tiket transportasi untuk pulang yang amat mahal.

Karenanya untuk memenuhi kewajiban puasanya, ia rela menyeting alarm di HP berulang-ulang agar tidak telat bangun sahur.

"Kalau di rantau ini makan sahurnya antara mi instan atau nggak roti tawar yang paling jadi andalan. Beda banget dengan dirumah. Biasanya ibu sudah menyiapkan makanan, dan pasti membangunkan sahur. Sekarang karena jauh ya ngeset alarm banyak banget udah kayak spam chat," papar mahasiswa Mahasiswa Hukum, UMM semester 2 tersebut.

Pewarta : Arifina Cahyati Firdausi
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]bojonegorotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]bojonegorotimes.com | marketing[at]bojonegorotimes.com
Top