Mbah Wiji (70), seorang janda tanpa anak warga Jalan Jatisiwur Kota Madiun. (madiunTIMES)
Mbah Wiji (70), seorang janda tanpa anak warga Jalan Jatisiwur Kota Madiun. (madiunTIMES)

Mbah Wiji sapaan akrabnya. Janda tua berusia 70 tahun itu tanpa anak. Dia hidup bersama cucu keponakannya di Jalan Jatisiwur RT.18/7 Kelurahan Demangan, Kecamatan Taman, Kota Madiun. 

Namun, Mbah Wiji hanya terbaring lemah di ranjang ruang belakang rumahnya. Rumah cokelat sederhana dengan dua kamar dan satu dapur tersebut ditinggali Mbah Wiji serta cucu keponakan dan suaminya bersama sang buah hati perempuan kecil mereka.

Dua tahun sudah Mbah Wiji hanya terbaring lemah di ranjang sederhana di ruang belakang ru dekat dapur. Menurut Reni Setyaningsih, cucu keponakannya, kalau makan, Mbah Wiji suka tidak pakai sayur.  "Suka pikun juga karena sudah tua,” kata Reni. 

Naasnya, Mbah Wiji sempat jatuh yang mengakibatkan kakinya patah. Saat wartawan MadiunTIMES berkunjung Selasa (07/04/2020) hari ini bersama relawan Ikatan Wong Madiun (IWM), Mbah Wiji masih tergolek lemah dengan selimut sarung yang menahannya dari dingin serta nyeri kaki yang dirasa.

Semenjak kakinya patah, Mbah Wiji tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa, seperti duduk di tepi ranjang.

Matanya  berkaca-kaca saat relawan IWM memberikan bingkisan roti kesukaannya. Terlihat binar bahagia terpancar dari wajah Mbah Wiji.

Dengan tangan bergetar memegang kantong kresek berisi roti, Mbah Wiji  mengatakan, “Ndek ingi yowes entek, iyo ngko tak maem e (kemarin juga sudah habis, nanti saya makan)."

Reni  juga menceritakan. dari pihak RT, sudah ada bantuan berupa uang kala itu. Namun, belum ada pihak pemkot yang turun tangan terkait nasib Mbah Wiji.

Reni bercerita bahwa sebelumnya yang merawat Mbah Wiji hanya ibunya. Namun kini ibu kandung Reni (Sri Mulyani) sudah meninggal dunia. “Baru saja meninggal Februari lalu. Kemarin 40 harinya. Jadi, saya yang rmerawat sekarang," ungkapnya.

Sri Mulyani merawat Mbah Wiji selama dua tahun. Selama ini bantuan sembako dari beberapa tetangga juga sudah didapatkan.

Ulil, suami Reni, menyampaikan harapannya kepada pemerintah daerah agar lebih memperhatikan pemerataan bantuan, entah itu berupa sembako atau dalam bentuk bantuan pengobatan. "Kalau makan, ya ndak sebanyak zaman muda dulu. Susah mbah makannya. Ya namanya orang tua, mau gimana. Kami  tetap memberikan yang terbaik sebisanya,” tuturnya.