Salah satu kegiatan talkshow sambil berjemur di UIN Malang. (Foto: Humas)
Salah satu kegiatan talkshow sambil berjemur di UIN Malang. (Foto: Humas)

Kini tidak lagi ditemui jalanan Kota Malang yang ramai dan macet. Suasana kota sepi dan lengang.

Jarang ada aktivitas di luar. Sebagian besar masyarakat memilih mengurung diri di rumah, menghindari covid-19 yang kini sudah memakan 67.999 jiwa di seluruh dunia.

Hingga saat ini, imbauan wali kota Malang untuk melakukan physical distancing dan WFH (work from home) belum dicabut. Kota Malang pun seakan menjadi kota mati.

Di tengah-tengah kota mati ini, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim  (UIN Maliki) Malang tetap berusaha menjaga "nyawa".

Untuk diketahui, sesuai instruksi Kementerian Agama (Kemenag) sebagai payung yang menaungi kampus, seluruh aktivitas mahasiswa diubah ke sistem dalam jaring (daring/online).

Hal ini termasuk kegiatan pembelajaran, konsultasi tugas akhir, hingga beberapa ujian. Kegiatan ekstrakurikuler juga dihentikan hingga informasi resmi selanjutnya dari Kemenag.

Tak dapat dipungkiri, di masa "lockdown" kampus yang kini mencapai minggu ketiga ini, banyak kinerja yang mengalami hambatan.

Namun, Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg beserta jajaran pimpinan ingin agar kampus tetap bernapas. Karena itu, beberapa kegiatan kecil tetap dilakukan.

Berikut kegiatan-kegiatan kecil yang dilakukan agar UIN Malang tetap bernapas di masa lockdown kampus ini.

1. Inovasi Bilik KAVI (Kabut Anti-Virus)

Bilik penyemprotan disinfektan ini diproduksi tak hanya untuk kepentingan internal. Pihak kampus memproduksi beberapa bilik untuk disumbangkan ke masjid-masjid dan pesantren-pesantren sekitar kampus lengkap dengan cairan disinfektannya.

2. Talkshow Open Space alias Tanpa Atap sambil Berjemur

Beberapa kali dalam seminggu, Prof Haris mengundang dosen-dosen UIN Malang untuk mengadakan diskusi kecil di halaman depan gedung rektorat. Diskusi dilakukan di pagi hari dengan berjemur untuk mencari vitamin D yang berguna meningkatkan kekebalan tubuh.

Prof Haris sendiri yang selalu bertindak sebagai host andal dalam talkshow tersebut. Jangan khawatir, penataan kursi bagi narasumber hingga penonton tetap memperhatikan aturan physical distancing dari pemerintah.

3. Tetap Berusaha Menelurkan Guru Besar

Hal ketiga ini agaknya menjadi hal yang tidak ingin ditunda oleh UIN Malang. Di awal tahun, Prof Haris menyampaikan dengan tegas bahwa tahun 2020, kampus harus memiliki setidaknya lima guru besar baru.

Kegiatan klinik penulisan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Namun, tahap-tahap akhirnya justru terhambat karena lockdown.

Tak ingin mematahkan semangat para calon guru besar, pihak kampus pun melakukan tahap akhir sebagai syarat keprofesoran secara daring.

Audiensi melalui teleconference antara Ristek Dikti dengan calon profesor pun dilakukan dengan lancar. Sehingga, kabar baik akan didengar meski di tengah masa lockdown ini.

Meski berada di tengah-tengah kota mati dan harus memberlakukan lockdown, UIN Malang tidak "mati". UIN Malang terus bernapas dan terus berusaha memberikan manfaat bagi masyarakat.